Oleh: h1a007007 | Maret 23, 2008

MInyak Jelantah Hingga Bioetanol

AAN PEJABAT NEGARA(LHKPN)
     
 
DARI MINYAK JELANTAH HINGGA BIOETANOL PDF Cetak
Jakarta – Potensi energi terbarukan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak yang berbasis energi tak terbarukan kian terbuka. Pameran mobil nasional Gaikindo Auto Expo XIII di Jakarta, 8-17 Juli 2005 turut menampilkan manfaat minyak jelantah dan biodiesel sebagai pengganti solar. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif Gasohol yang merupakan campuran antara bensin dan bioetanol (etanol yang berasal dari sumber hayati). Bioetanol bersumber dari karbohidrat yang potensial sebagai bahan baku, seperti tebu, nira, sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, sagu, jagung, jerami, bonggol jagung, dan kayu. Setelah melalui proses fermentasi, dihasilkanlah etanol. Berdasarkan uji unjuk kerja mesin Kijang pada kecepatan 80 kilometer per jam, kinerja mesin berbahan bakar Gasohol E-10 mampu menyamai penggunaan bahan bakar bensin Pertamax. Sudah lama dikembangkan Potensi mengembangkan energi terbarukan telah muncul sejak beberapa tahun lalu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya, mengembangkan biodiesel sejak tahun 2001 dan menjalani tes jalanan menempuh rute Jawa-Sumatera pada tahun 2002 dan Jakarta-Bali pulang pergi pada tahun 2004. Kini, teknologi tersebut diaplikasikan pada sepuluh bus antar jemput pegawai BPPT. Beberapa pegawai pun menggunakannya untuk mobil mereka. Biodiesel bisa langsung dicampur solar di kendaraan bermesin diesel tanpa perlu modifikasi, kata Senior Engineer Balai Rekayasa Disain dan Sistem Teknologi BPPT Agung Wijono dalam pameran, Kamis (14/7). Berdasarkan uji laboratorium, campuran efektif biodiesel 5-30 persen per liter solar. Selain berkarakter pelumas sehingga aman untuk mesin, sistem pembakaran pun menjadi lebih sempurna. Khusus untuk mengurangi polusi secara signifikan, penggunaan biodiesel dicampur solar dengan rasio 5-10 persen. Pada pameran kemarin, beberapa pengunjung tampak antusias menanyakan efektivitas Gasohol (nama dagang bioetanol) dan Solarmax (nama dagang Biodiesel). Menurut Process Engineer Balai Rekayasa Disain dan Sistem Teknologi BPPT Susianih, banyak pengunjung memesan Solarmax dengan harga Rp 8.000 per liternya. Untuk Gasohol, per liternya seharga Rp 4.000. Setiap hari, proses fabrikasi biodiesel di Puspiptek Serpong menghasilkan 1,5 ton biodiesel. Minyak jelantah Selain biodiesel dan bioetanol, para mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Trisakti Jakarta menampilkan penelitian minyak jelantah sebagai alternatif pengganti solar. Penelitian yang dimulai Maret 2005 lalu telah melalui uji lapangan menggunakan mesin diesel Isuzu di Sirkuit Sentul, Bogor. Diakui para mahasiswa, dampak negatif yang muncul adalah pemborosan bahan bakar sekitar sepuluh persen. Akselerasi kecepatan pun demikian. Akan tetapi, sesuai teori, jelantah memiliki karakter yang mirip dengan bahan bakar biodiesel dengan emisi gas buang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar dari energi tak terbarukan. Kami belum meneliti detail soal itu, kata salah satu mahasiswa, Alam. Deretan potensi energi terbarukan bertambah dengan peluncuran mobil bebas polusi dan hemat energi yang diberi nama Marmut Listrik LIPI (Marlip), awal tahun 2005 lalu. Sayang, seperti diungkapkan para pengamat, potensi besar itu belum didukung kemauan politik pemerintah. (GSA) Sumber : Kompas (15/7/05)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: