cinta-alalh-dunia.jpg

Rasulullah saww, “Cinta kepada dunia dan cinta kepada Allah tidak dapat menyatu di dalam hati selamanya.” (Tanbih al-Khawatir hal. 362)

APA YANG DIMAKSUD DUNIA DAN CINTA DUNIA? Sebagian orang salah menginterpretasikan konsep ‘dunia’. Umumnya, kaum sufi mencela habis-habisan dunia, dengan pemahaman yang keliru tentangnya. Ketika Rasulullah saww bersabda, “Cinta dunia adalah sumber segala dosa dan cela!”, maka yang kita pahami tentang dunia di sini adalah dunia yang buruk dan tercela.

Namun kita juga pernah membaca sebuah hadits lainnya, yang mana Rasulullah saww bersabda, “Dunia itu ladang bagi akhirat”, maka dunia yang dimaksud di dalam hadis ini adalah dunia yang memiliki nilai yang positif.

Pada hakikatnya, tidak ada dunia yang tercela atau pun dunia yang terpuji. Yang tercela dan yang terpuji dalam kaitannya dengan dunia adalah sikap kita, dan pandangan kita terhadap dunia itu sendiri.

KESENANGAN YANG MEMPERDAYAKAN Al Qur’an mengatakan, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran [3] ayat 185)

Pada hakikatnya, esensi dunia itu sendiri bersifat netral atau tidak punya nilai selama ia tidak terhubungkan dengan apa atau siapa pun. Namun ketika dunia terhubungkan dengan seseorang, ia mulai menampakkan nilai baik atau buruknya, bergantung dengan perlakuan orang tersebut terhadap dunia itu sendiri.

Hal ini bisa kita umpamakan dengan sebilah pisau. Ketika pisau tidak digunakan oleh siapapun, maka ia tidak memiliki nilai apa pun. Pisau baru memiliki nilai baik atau buruk adalah setelah ia berada di tangan manusia.

Ketika pisau berada pada tangan manusia yang baik maka ia akan digunakan oleh si manusia untuk membantunya melakukan hal-hal yang positif, seperti mengiris bawang, membelah bambu, bahkan untuk melakukan pembedahan atas mereka yang sakit.

Namun, ketika pisau berada di tangan orang-orang yang jahat, maka ia bisa digunakan oleh para penjahat untuk melakukan kejahatan-kejahatan. *]

Begitu pun dunia, ketika seseorang melihat semua kesenangan-kesenangan yang terkandung di dalam dunia, seperti wanita, anak-anak, maupun harta kekayaan, maka semua itu bergantung sejauh mana ia melihat kesemuanya itu berkaitan dengan dirinya.

Jika seseorang, tanpa sadar, melihat atau menyikapi dunia dan kehidupannya ini seolah-olah ia abadi atau kekal, maka ia benar-benar telah tertipu, karena sebenarnya dunia ini fana, bersifat sementara dan tidak kekal.

DUNIA, ALAM, JASAD, NAFS DAN RUH Jasad kita sendiri pun merupakan dunia, sementara ruh kita bukan dunia. Oleh karena itulah Imam Ali as mengatakan, “Manusia itu anak-anak dunia, adalah tabiat alaminya jika anak mencintai ibunya86]

Pada hadits lainnya, Imam Ali as mengatakan, “Manusia itu anak-anak dunia, karena itu tidak bisa dicela seseorang yang mencintai ibunya.87]

Jika jasad, atau tubuh kita telah menggerakkan hati kita untuk mencintai dunia, maka hal itu memang sudah tabiat alamiahnya, sesuai dengan prinsip (kaedah) kesamaan atau keserupaan, dimana seseorang cenderung mencintai sesuatu yang serupa dan mirip dengan dirinya.

Atau kaedah lainnya bahwa kita (manusia) mencintai alam (dunia) karena kita berasal darinya (tanah). Namun manusia tidak hanya berasal dari tanah. Manusia juga berasal dari unsur lainnya yaitu ruh Tuhan, yang keduanya menyatu di dalam diri manusia, namun esensi sejati manusia adalah ruh Tuhan. Sementara, tanah atau tubuh hanyalah alat atau kendaraan ruh agar manusia dapat melakukan amal shalih agar dengan amal shalih itulah manusia bisa kembali kepada asalnya yaitu Tuhan.

Jadi, jika kita memperlakukan dunia sebagaimana juga terhadap jasad kita sendiri (yang juga bagian dari dunia), bukan sebagai alat atau kendaraan untuk melakukan perjalanan menuju Dia, maka benar-benar kita telah terpedaya oleh pandangan dan sikap kita sendiri.

Sebaliknya, jika kita memperlakukan dunia dan tubuh kita hanya sebatas alat dan kendaraan untuk dapat mencapai Tuhan, maka hal inilah yang merupakan kearifan orang yang berilmu.

Kita (manusia) membutuhkan dunia, sebagaimana ruh membutuhkan jasad agar dengannya ruh dapat melakukan perjalanannya menuju Tuhan.

Tanah atau jasad adalah materi, sementara ruh adalah zat non materi, yang keduanya adalah dua zat yang sangat berbeda bahkan bertolak belakang. Karena sebenarnya, kedua zat ini tidak bisa terhubungkan tanpa ada zat lainnya yang bisa menghubungkan keduanya.

Zat lainnya, yang pada hakikatnya bukanlah zat tetapi bayangan ruh itu sendiri. Itulah yang disebut nafs (ego atau sang aku). Nafs merupakan barzakh (penghubung) antara ruh dengan jasad.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas (barzakh) yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS Al-Rahman [55] ayat 19-20)

Kaum ‘urafa mena’wilkan dua lautan pada ayat tersebut dengan ruh dan jasad, sementara pembatas atau penghubung keduanya adalah nafs. Ruh tidak bisa mempengaruhi jasad, begitu pun jasad tidak bisa mempengaruhi ruh. Keduanya hanya bisa saling mempengaruhi jika nafs memainkan perannya sebagai penghubung gerak dari ruh ke jasad atau sebaliknya.

Jika nafs (ego) menarik ruh kepada jasad maka kecenderungan nafs mengarah kepada dunia dan bersifat duniawi dan materialis. Sebaliknya jika nafs menarik jasad kepada ruh, maka kecenderungan ini bersifat ukhrawi atau spiritualis.

Jika nafs (ego atau sang aku) senantiasa membiasakan menarik ruh kepada jasad, secara pasti nafs terkotori oleh kesenangan-kesenangan atau kelezatan-kelezatan badani yang pasti membekas dan tertanam kuat ke dasar alam bawah sadarnya.

Imam Al-Baqir as dari Nabi saww bersabda, “Jadilah orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu dan jauhilah olehmu kecintaan kepada kelezatan.”. 88]. Tentunya yang dimaksud di sini adalah kelezatan-kelezatan jasmani atau duniawi.

HAKIKAT DUNIA Menurut Imam Khomeini qs (semoga Allah senantiasa mensucikan ruhnya), “Dunia kadang-kadang dapat diartikan sebagai tingkat eksistensi paling rendah dan tempat perubahan, peralihan dan kemusnahan. Adapun akhirat menunjukkan kembalinya seseorang dari alam eksistensi yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, yaitu alam samawi, alam batini, yang merupakan tempat yang tetap, yang tidak berubah dan abadi. Dua alam tersebut ada pada setiap individu. Yang pertama adalah alam materi, tempat perkembangan dan kemunculan, yang merupakan tempat eksistensi dunia wujud yang lebih rendah. Yang kedua adalah tingkat eksistensi yang tersembunyi, batiniah, dan samawi, yang merupakan alam keberadaan ukhrawi yang lebih tinggi. Meskipun eksistensi duniawi adalah alam keberadaan yang lebih rendah dan tidak sempurna, namun selama ia menjadi ladang untuk latihan jiwa yang mulia dan madrasah untuk mencapai kedudukkan ruhaniah yang lebih tinggi. Ia menjadi lahan untuk mengolah akhirat. Dengan demikian dunia merupakan alam keberadaan yang paling agung dan alam yang paling menguntungkan bagi pencinta Tuhan dan para musafir di jalan akhirat. Jika bukan karena alam materi duniawi ini, wilayah transformasi dan perubahan fisik dan ruhaniah dan juga jika Allah SwT tidak menjadikannya sebagsai alam peralihan dan kmusnahan, maka jiwa tidak sempurna tentu tidak akan dapat mencapai kesempurnaan yang dijanjikan dan tidak dapat menjangkau alam yang permanen dan stabil, sedangkan penjelmaan ketaksempurnaan tidak dapat memasuki kerajaan Allah.” 89]

Imam Ali Zainal ‘Abidin as berkata, “Dunia itu ada dua macam, dunia yang menyampaikan (ke Surga) dan dunia yang terkutuk!” 90]

DUNIA YANG TERPUJI Imam Ali as berkhotbah ketika mendengar seseorang menghina dunia : “Sesungguhnya dunia ini merupakan tempat kebenaran bagi mereka yang menyadari kebenarannya, tempat keselamatan bagi mereka yang memahaminya, tempat kekayaan bagi mereka yang mencari bekal darinya (untuk akhirat), serta tempat nasihat bagi merekayang (mau) mengambil pelajaran darinya. Ia adalah tempat ibadah bagi para pencinta Allah, tempat do’a para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan pasar bagi orang-orang yang taat kepada-Nya. Di sana mereka memperoleh rahmat-Nya dan di situ pula mereka memperoleh surga.” 91]

Selama dunia merupakan manifestasi dan saksi atas Keindahan dan Kebesaran-Nya, maka dunia seperti ini merupakan dunia yang dipuji.

Imam al-Baqir as berkata, “Sebaik-baik pertolongan dunia adalah yang mengantarkan kepada (amal) akhirat.” 92]

Imam al-Baqir as meriwayatkan bahwa Allah Ta’ala telah mewahyukan kepada Musa as : “…Dia (dunia) itu adalah tempat tinggal orang-orang zalim, kecuali orang-orang yang beramal baik di dalamnya, karena sesungguhnya yang demikian itu baginya sebaik-baik tempat tinggal.” 93]

DUNIA YANG TERCELA Dunia menjadi tercela adalah jika seseorang mempertaruhkan kedudukan ruhani yang tinggi hanya untuk kesenangan-kesenangan yang bersifat temporal. Dengan kata lain, dunia tidak dijadikan alat atau kendaraan untuk memperoleh kesempurnaan ruhani dan kedudukan spiritrual di sisi Tuhannya.

Dunia yang tercela, adalah dunia manusia sendiri, yaitu ketenggelaman manusia di dunia nafsu jasmaniah, keterikatan, serta kecintaan kepadanya. Dunia yang seperti inilah yang merupakan sumber segala macam kejahatan dan maksiat.

Imam Ali as berkata, “Sesungguhnya dunia ini tempat tinggal orang-orang munafik, bukan tempat tinggal orang-orang yang bertaqwa.” 94]

Imam al-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya awal semua kedurhakaan (ma’siat) kepada Allah itu ada enam perkara : Cinta Dunia, Cinta Kedudukkan, Cinta Makanan, Cinta Wanita, Cinta Tidur, dan Cinta Berleha-leha95]

CINTA DUNIA DAN CINTA KEPADA ALLAH TAK MUNGKIN DAPAT DISATUKAN Imam Ali as berkata, “Bagaimana mungkin seseorang mengharapkan cinta kepada Allah sementara di dalam hatinya bersemayam cinta dunia?” 96]

Imam Ali as berkata, “Sebagaimana tidak mungkin menggabungkan matahari dan malam, begitu pula tidak mungkin menggabungkan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada dunia.” 97]

Imam Ali as berkata, “Barangsiapa yang menginginkan berjumpa dengan Allah, hendaklah ia melupakan dunia.” 98]

Imam Ali as berkata, “Jika engkau mencintai Allah, hendaklah engkau keluarkan dari hatimu kecintaan kepada dunia.” 99]

Imam al-Shadiq as berkata, “Jika seseorang mukmin telah menolak dunia secara total dan ia menemukan manisnya cinta kepada Allah niscaya para pencinta dunia akan menganggapnya gila, walau kenyataannya tidak demikian. Mereka adalah orang-orang yang telah terasuki manisnya cinta kepada Allah sehingga ia tak lagi terpedaya oleh selain-Nya.” 100]

Di dalam Kitab al-Tuhfah al Mardliyyah fie al-Akhbar al-Qudsiyyah wa Ahadits al-Nabawiyyah, terdapat Hadits Qudsi, yang mana Allah telah berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Jika hati hamba-Ku dikalahkan oleh kesibukkan-kesibukkan dunia, niscaya Kusibukkan hatinya dengan kefakiran (perasaan miskin) dan Ku buat ia lupa akan kematian serta Kuuji ia dengan harta sehingga ia lalai akan tempatnya kembali (akhirat). Sebaliknya jika hati hamba-Ku dikalahkan dengan kesibukkan-kesibukkan Akhirat niscaya Kujadikan keinginan dan cita-citanya hanya tertuju pada beribadah kepada-Ku, lalu hamba-hamba-Ku yang lain Kujadikan pelayan untuknya dan senantiasa Kupenuhi kalbunya dengan Kecintaan kepada-Ku.” 101]

Imam Ali as berkata, “Barangsiapa yang sedang merindukan sesuatu niscaya pandangannya menjadi rabun, dan hatinya menjadi sakit, karena ia melihat dengan pandangan yang tidak benar dan mendengar bukan dengan pendengaran yang sebenarnya. Karena sesungguhnya syahwat telah membingungkan akalnya, dan dunia telah mematikan hatinya, dan cinta telah menjadikan dirinya bingung dan susah, karena ia telah menjadi hamba (budak) baginya.” 102]

Imam Al-Shadiq as meriwayatkan bahwa Imam Ali as menulis surat kepada sahabat-sahabatnya : “Tinggalkanlah dunia! Karena sesungguhnya cinta kepada dunia itu membutakan, menulikan dan membisukanmu serta menghinakan penghambaanmu.” 103]

Penulis Roman Yusuf dan Zulaykha, Abdur Rahman Jami’ mengatakan, “Alangkah beruntungnya hati yang menjadi rumah cinta, karena cinta membuatnya lupa dari perhatian terhadap dunia! Cinta bagaikan petir yang memercikkan api kepada kesabaran dan akal dan mereduksi mereka ke dalam bukan apa-apa. Pencinta (bahkan) menjadi tak peduli terhadap keselamatan dirinya. Segunung cercaan baginya tidak lebih dari sekedar jerami. Celaan hanya meningkatkan keinginannya.” 103b]

Imam Husein as berkata : “(Kebanyakan) Manusia adalah hamba (budak) dunia,

dan agama hanya menjadi buah bibir mereka.

Mereka akan menjaganya selama agama

mendatangkan manfaat bagi mereka.

Tetapi apabila mereka diuji (akan terbukti)

(hanya) sedikit (orang) yang benar-benar beragama”

(Tuhaf al-‘Uqul hal. 245)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :

*] Ini juga bisa diterapkan pada politik. POLITIK ITU TIDAK BURUK! Ia menjadi buruk ketika berada di tangan para penjahat berdasi, koruptor, bandit-bandit parlemen dan yang semacamnya! Tetapi jika berada di tangan orang-orang baik, zuhud dan jujur seperti Imam Ali Khamenei atau Ahmadinejad, misalnya, maka politik justru bermanfaat bagi banyak orang bahkan bagi dunia dan alam semesta!